SKINCARE TERNIAT SELAMA 30 TAHUN: Ramah Kantong dan Mudah Didapat
Siapa sih yang nggak tahu istilah “sun burn”? Aku sendiri mengetahui istilah “sun burn” dari tayangan anak Upin ipin. Dimana disitu si kakak Rose nggak mau keluar rumah karena takut kulitnya terbakar alias “sun burn”. Aku tertawa waktu adegan si kakak Rose berkata begitu. Apa pula takut sun burn, kemayu banget. Memangnya sekali keluar rumah bakal langsung terbakar? Hahaha.
Eh ternyata beberapa hari kemudian adik iparku melakukan hal serupa dengan si kakak Rose. Aku menertawakan sikap konyol adikku itu. Lalu aku dan adik iparku jadi berlanjut membicarakan tentang skincare. Rupanya remaja 18 tahun ini sedang gandrung belajar skincare. Aku dengan entengnya bilang ke dia, kalau aku dulu seusia dia berjerawat parah dan memilih masa bodoh. Hahaha. Remaja ini memberontak, katanya “gimana nasib wajahku dengan segala jerawat ini kalau nggak dirawat mbak?”
Ngobrolin perihal skincare, pengalaman pribadiku perihal dunia skincare sangat minim. Aku adalah tim malas konsisten. Saat remaja, aku pernah ada di fase “coba-coba” produk karena penasaran dan terbujuk rayuan iklan di televisi. Itu terjadi kira-kira saat aku sekolah menengah pertama. Seharusnya terlalu dini, tapi ibuku nggak protes ataupun menegur. Akhirnya yang terjadi kulitku malah breakout parah. Sangat parah sampai tingkat “jerawat ungu”. Apa itu? Jerawat ungu adalah istilah yang aku pakai pribadi karena peradangan pada jerawatku yang sampai membuat kulit disekitar jerawat berubah warna menjadi ungu dan super menyakitkan. Bahkan rasa frustrasi kala itu masih terasa jika mengingatnya. Aku sangat menyesal lantaran sebelumnya kulitku baik-baik saja. Walaupun tidak glowing setidaknya bersih dari jerawat. Huhuhu. Dan aku stop memakai apapun setelah itu, dan memilih pakai masker wajah alami dari buah atau sayur. Butuh bertahun-tahun ya untuk mengembalikan skincare barier aku pulih.
Berbekal pengalaman pertama yang pahit, aku mendapat satu pelajaran penting bahwa jangan pernah sekalipun terbujuk rayuan iklan televisi. Hahaha. Aku paling tidak harus tahu tipe kulitku seperti apa. Baru deh bisa menentukan mau pakai produk skincare apa. Kenali dirimu, kenali kulitmu. Daaan …aku baru mendapatkan ilham pemikiran seperti itu setelah 30 tahun lamanya. Apa? Kok bisa?
Sungguh terlambat ya? Hahaha. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Bagaimana perjalananku menemukan skincare yang cocok untuk kulitku? Jawabannya adalah dengan banyak membaca. Segala informasi seputar “skincare yang cocok untuk pemula” dan “skincare yang cocok menjelang usia 30”, membawaku pada satu nama brand skincare. Awalnya aku kurang begitu percaya dengan brand ini, karena aku jarang mendengar produknya. Ternyata eh ternyata, aku yang cupu bukan brandnya yang nggak terkenal. Hahahaha.
Daaan …produk skincare terniat pertama yang aku pakai setelah sekian tahun lamanya tanpa skincare adalah Azarine. Terutama yang series brightening Japanese Sakura ya. Kenapa pilih seri ini? Sederhana sih, karena aku tidak mau membebani kulitku. Aku berusaha memilih kandungan yang paling ringan, menurutku. Berkat mendalami produk Azarine pula, aku jadi mengulik lebih dalam bagaimana sih sebenarnya tipe kulitku ini? Kenyataannya, dulu kulitku sangat berminyak di hampir semua bagian. Hasil observasiku, sekarang kulitku malah sebagian kering dan cenderung kusam. Waw, inilah jawaban kenapa kata suamiku aku tidak ada beda mau udah mandi atau belum. Bahkan ibu mertuaku pun berkata begitu.
Yang membahagiakan lagi, produk skincare dari Azarine sungguh sangat ramah kantong sekali. MasyaAllah aku sampai terharu ya. Mengingat harga skincare saat ini banyak yang overbudget buat ibu-ibu pelit sepertiku. Hahaha. Dengan harga kurang dari 50 ribu rupiah udah bisa memiliki day cream dan night cream. Bahkan serumnya pun kurang dari 100 ribu rupiah. Auto bahagia ya. Hahaha. Udah gitu awet dong, bisa sampai sebulan lebih. Kira-kira begini rangkaian skincare ramah kantong yang aku gunakan, pertama facial wash punya brand Wardah. Kedua, aku pakai serum brightening yang warna pink punya brand Azarine. Ketiga, aku pakai day cream atau sunscreen punya Azarine juga. Kalau malam tinggal ganti dengan night cream ya. Sudah. Hahaha.
Hasilnya, kulitku berangsur cerah setelah konsisten pakai selama satu bulan. Hore! Bye kusam hahaha. Alhamdulillah itu bukan kehaluanku saja ya. Suami kasih komentar positif, “eh kulitmu agak mendingin yank, nggak buluk kayak biasanya.” Memang agak perih ya mendengarnya, hahaha. Tapi nggak apa, aku sangat senang sih. Usaha pertama berjalan dengan baik. Dan lagi tanpa menguras kantong terlalu dalam dong, huhu. Cukup dengan kurang dari 200 ribu rupiah! Sudah mendapat rangkaian skincare basic yang mantul.
Selama 30 tahun ya, seorang aku akhirnya pakai skincare. Hahahaha. Sebuah kemajuan pesat dalam hidupku sih. Beruntung sekali aku ketemu dengan Azarine. Ramah kantong dan mudah didapat. Bahkan sekarang di Indomaret pun ada loh walaupun nggak begitu lengkap ya. Udah murah, gampang, ngefek pula, alhamdulillah banget kan ya. Hahahaha. Sejauh ini, aku belum pernah breakout sama sekali. Agak khawatir sih ya, tapi terbayang keriput di wajah kok ngeri. Ya sudahlah aku memilih mencoba memahami kulitku dan berani pakai skincare lagi. Terbayang nggak tuh selama ini aku nggak pernah pakai apapun dengan kualitas udara dan paparan sinar matahari Indonesia yang semakin nggak sehat. Masih selamat ya kulitku cuma kusam. Ya walaupun kalau diperiksa lebih lanjut mungkin akan menemukan penuaan sel kulit atau apa gitu ya, hahaha. Tapi, aku sangat puas dengan pencapaianku soal per skincare-an saat ini. Semoga aja selalu cocok dengan Azarine ya.
Perjalanan skincare ku masih akan berlanjut dengan babak baru, hahaha. Yaitu skincare anti aging. Maklum udah masuk usia 30 tahun harus lebih aware ya. Sekali lagi, pakai skincare bukan untuk terlihat cantik atau putih ya. Yang paling penting dari semua itu adalah kulit sehat. Dan kantong sehat tentunya, hahahaha.
Salam happy!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar