Rabu, 21 September 2022

 


Ujian terberat dalam hidupku adalah mencintaimu.
- nay,2022 -

Beberapa hari yang lalu mengalami ujian mental yang sangat berat. Pernah sih mengalami ujian mental seperti ini dan itu udah lama banget kejadiannya. Kalau dulu aku bisa menyendiri di kamar berjam-jam. Sangat bisa mengalihkan perhatian. Tapi saat ini berbeda. Punya dua anak sungguh tidak mudah ya wkwkwkwk. Ruang pribadi terenggut. Waktu gabut tak ada lagi. Bahkan pikiran ini menjadi sangat ribut. MasyaAllah wkwkwk.

Bahkan nggak jarang aku menangis di depan anak-anak saking udah nggak tahan. Nggak bisa dibendung. Capek lahir batin. Aku merasa kok hidupku seputar anak-anak mulu sih. Kok aku jadi mendadak sangat bosan dengan rutinitas ini sih. Kok aku harus bikin ini itu buat anak-anak sih. Dan masih banyak lagi yang intinya aku ingin waktu sendiri.

Jelas nggak mungkin karena aku emang cuma bertiga doang di rumah hahahaha. Sudah mencoba ke rumah ujinya tapi sama aja anaknya nggak mau jauh dari ibok wkwkwk. Jadi berandai-andai, andai ayahnya disini …

Berawal dari rasa “kesepian” itulah akhirnya aku jadi sangat sensitif. Dan kondisi suami yang sibuk bekerja hingga nggak sempat balas WhatsApp sungguh menjadi boomerang. “Duh kok jadi aku sendiri sih yang kesusahan nungguin anak-anak??” Kan bikinnya berdua kenapa aku jadi repot sendiri sih. Bapak enak makan tenang, mandi tenang, masih bisa ngobrol sama teman, bisa main game, bisa sekedar rebahan melepas lelah, lah aku??? Begitulah kira-kira pikiran-pikiran negatif yang berkecamuk dalam otakku. Apakah aku utarakan ke suami? Tentu tidak, karna aku kasihan. Lelah kerja terus aku ngomong hal-hal gila kayak gitu wkwkwkwk. Dan karna kasihan itulah aku harus menanggulangi perasaan ini sendirian.

Aku berdoa sama Allah, ya Allah panjangkan umurku dan suamiku. Aku pengen punya banyak waktu berdua. Sekian tahun LDR dan bersambung LDM, dimana kita nggak pernah benar2 menikmati waktu layaknya orang normal. 84/365, 84 hari dalam setahun aku dan anak-anak bisa kumpul dengan bapaknya. Bayangkan hanya 84 hari, ironis sekali hahahaha. Aku bilang sama Allah “ya Allah rasanya aku nggak sanggup lagi merasa sepi kayak gini. Sungguh aku baru memahami bahwa ujian terberat dari Mu adalah ini. Aku tahu aku begitu mencintai suamiku, karna itulah engkau menghukumku dengan memisahkan aku dengannya. Pliss ya Allah beri aku dan suamiku umur panjang agar kita bisa menikmati waktu bersama.” Dengan tangisan tersedu karna sangat rindu. 

Tangis itu berulang setiap malam di hari- hari berikutnya pula. Sejatinya manusia memang nggak bisa kan ya hidup sendiri. Jadi ketika kita menikah lalu tetap beraktivitas sendiri-sendiri apa nggak menyiksa rasanya?? Sangat menyiksa. Maka itu, i hate money. Sungguh deh. Semua karna uang. Aku benci uang. Aku benci tapi membutuhkannya. Menyedihkan sekali!

-21 September 2022-

Kamis, 15 September 2022

Setelah 6 tahun berlalu...

 

Menikah dengan bapak saiful di tahun 2016, sungguh adalah sesuatu yang aku inginkan saat itu. Memang goal kami berdua ya menikah. Alhamdulillah kesampaian haha. Dan baru-baru ini menyadari bahwa keinginanku menikah adalah untuk melarikan diri dari rumah hahahaha. Kapan-kapan aja ceritanya haha.

Dengan bekal "melarikan diri dan yakin aja akan lebih baik" aku melangkah menjadi seorang istri. Awal menikah bahagia banget dan berharap bahagia selamanya bersama. Setelah melewati tahun pertama yang ternyata berat, aku baru tahu kalau menikah itu nggak hanya seneng-seneng aja ya bestie wkwkwk. Banyak pelajaran di satu tahun pertama, tapi berhubung tiada tempat konseling jadi ya kadang tidak ada solusi. Alias ya lewat aja gitu.tau-tau menjadi bom waktu wkwkwk.

LDR sejak 2 minggu setelah menikah. Nggak mudah ya bestie. Waktu pacaran ya gitu deh rasanya. Harapannya udah menikah bakal berbeda entah bagian mananya gitu lo ya. Eh ternyata ya kurang lebih sama. Sampai akhirnya ngotot ikut bapak saiful dengan pertimbangan pengen tahu rasanya serumah. Kemewahan sekali haha. Aku sampai resign dari sekolah, demi ikut bapak saiful. Akhirnya ikut merantau, bahagia banget walaupun apa-apa sendiri. Ketemu tiap hari udah kayak mimpi. Tidur satu ranjang. Makan bareng. Padahal ketemu cuma sepulang kerja, kadang weekend pun kita mager nggak kemana-mana. Berduaan bapak saiful lebih banyak main game. Sambil ngobrol ya akunya yang nyerocos.

Hamil si kakak, dipulangkan ke malang. Sedih banget. Dan harus tinggal dirumah mertua sementara rumah lagi proses pembangunan. Aku mencoba kuat dan meyakini bahwa ini buat kebaikan berdua. Apapun keputusan bapak saiful adalah demi berdua. Sedih pol udah waktu hamil kakak. Kalau ingat suka kasian sama kakak. Ya tahu sendirilah ya, bagaimanapun perasaan ibunya anak pasti merasakan juga. Sampai kakak lahir dan beranjak 2 tahun, bapak saiful baru memutuskan nggak merantau lagi. Bahagia dan percaya, si bapak mampu kerja disini. Apapun pasti dilakukan.


Pernikahan tahun ketiga bisa kumpul bersama dirumah, alhamdulillah. Sesuatu yang aku impikan. Sesuatu yang aku harapkan. Dan aku percaya kita bisa bertahan, si bapak mampu cari kerja dimalang dan mau. Akupun akan berusaha. Ternyata sangat tidak mudah bagiku dan si bapak. Terbiasa LDR kali ya, jadi kayak kagok gitu. Bingung. Si bapak kesulitan mencari kerja di malang. Rupanya itu salah satu faktor kehidupan kita jadi terasa berat. Aku berusaha semampuku selalu mendukung dan mendampingi. Sambil mikirin si kakak juga.  Kita bahagia, tapi ternyata perasaan itu aja nggak cukup untuk hidup dimalang.

Singkat cerita di 6 tahun pernikahan, bapak saiful memutuskan kembali merantau. Dengan banyak pertimbangan bersama. Sedih ya. Apalagi sekarang sudah ada adek. Rasanya campur aduk. Aku harus mengulang 2 tahun pertama pernikahan dulu yang menurutku amat menyedihkan lagi hahahaha. Ditambah semakin banyak masalah ini itu muncul. Baik itu dari dlam maupun luar. Belum lagi masalahku dan bapak saiful, alias pencarian jati diri kita berdua. Belum lagi masalah rindu. Belum lagi masalah anak-anak. Wah banyak deh pokoknya. Semakin banyak terkuak masing-masing diri kita bagaimana. Dan tuntutan untuk berusaha menjalankan peran masing-masing dengan baik. Miss komunikasi yang selalu terjadi dalam setiap masalah. Haduh pokoknya banyak banget ya Allah hahahahhahahaahaaha.

Fiuh ... lelah bestie wkwkwk. Dan bapak saiful mungkin juga merasakan hal yang sama. Sampai aku tiba pada kesimpulan bahwa ujian terberat dalam hidupku adalah mencintai bapak saiful. Aku merasa nggak mampu melewatinya tapi sangat ingin berusaha. Aku merasa capek tapi nggak ingin menyerah. Aku sangat frustasi tapi aku ingin mencoba. Ya Allah tolong aku. Di tahun ke 6 pernikahan ini, semoga ada hikmah yang bisa aku ambil. Semoga masalah yang tampak berat bagiku ini bisa aku lewati dengan bahagia. Aku cuma ingin bahagia. Bahagia bersama bapak saiful. So plis diriku, janganlah kau hilangkan memori indahmu bersama bapak saiful. Pupuk selalu. Semua masalah itu hanyalah bumbu kehidupan yang harus aku lewati. Merasa kecewa juga hakku, mari rasakan dan ambil hikmah. Akupun juga patut dibahagiakan dan berusaha bahagia. yuk semangat diriku. Pelan aja melewati step by step. 😊❤️