Kamis, 02 Maret 2023



BUKAN RESEP TAPI BIKIN KANGEN: SAYUR BAYAM BUMBU SERE DAN PISANG GORENG BU IS


Masakan adalah hal yang paling membuatku ingat dengan ibu. Bonding terbaikku bersama ibu adalah perihal masakan. Kenapa begitu? Ada sejarahnya nih, hahaha. Jadi dulu sewaktu aku remaja, dikala aku membantu ibu memasak, hampir selalu diawali dengan perasaan kesal. Karena rasanya ibu tuh selalu masak saat aku lagi asyik mengerjakan sesuatu. Dan ibu selalu menegur dengan sindiran seperti “kamu ngapain sih? Mbok ya ibu tuh di bantuin masak gitu lo biar cepat selesai, ibu juga pengen cepat santai santai kayak kamu”. Kalau udah begitu aku terpaksa bantuin daripada dimarahin, hahaha. Aku itu paling takut kalau ibu sampai marah. Selama proses memasak, tugas utamaku cuma mengiris dan mencuci. Udah dua hal itu aja. Nggak pernah naik level ke meracik bumbu atau menggoreng. Suatu hari aku protes nih, “Ah ibuk, masa aku iris bumbu sama bagian nyuci mulu sih, mbok naik level gitu jadi yang masak”.


Akhirnya ibu kasih kesempatan aku meracik bumbu. Kalau nggak salah sambal deh yang pertama aku coba. Aku banyak nanya tuh “garamnya seberapa buk? Gulanya segini?” Pokoknya takaran aku nanya terus. Ibu cuma jawab “Ya secukupnya aja,nanti tinggal dicicip kurang apa terus ditambah”. Kok aku jadi sebal ya, hahaha. Menurutku takaran secukupnya itu nggak asyik gitu loh, nggak kayak di buku-buku resep yang pernah aku baca. Aku jadi berpikir, wah ibu nggak mau aku jago masak nih masa udah naik level tetep juga susah banget. Ibuku cuma ketawa doang. Beliau bilang “Masak itu mudah kalau udah terbiasa, ya awalnya dari coba-coba. Resep kadang juga bisa berubah. Rasa itu selera. Jadi manis di ibu belum tentu cukup manis di lidahmu. Makanya jangan malas bantuin ibu masak.” Hahahaha. Sampai udah nikah, aku baru tahu esensi dari perkataan ibuku itu.


Ada dua resep masakan yang menurutku berkesan ya. Yang pertama adalah sayur bayam bumbu sere. Kayaknya aku belum pernah menemukan resep ini di buku resep. Bahkan teman kuliahku sampai selalu nanyain,”eh kapan ya bisa makan sayur bayam ibu”. Karena itu ada bumbu sere nya kata dia seger banget. Aku baru menyadarinya ya ketika teman aku bilang begitu. Aku tanya ke ibu katanya ya biar enak aja. Resepnya ya cuma kayak biasa masak bayam terus ditambah sere gitu doang. Dan emang asli rasanya makin seger.


Google.com


Yang kedua adalah pisang goreng. Kata ibu nggak ada resep rahasianya. Tapi teman SMA aku dulu suka banget. Sejak pertama bawa bekal ke sekolah, mereka nanya mulu di hari berikutnya. Sampai punya julukan “Pisang Goreng Bu Is”. Entah ya ada peletnya kali, hahahaha.


Google.com


Aneh tapi nyata ya. Bikin sebal masak bareng ibu tapi bikin kangen banget masakan ibu tuh. Setelah menikah aku baru tahu bahwa ya omongan ibu benar. Memasak memang harus banyak berlatih. Sehingga kelamaan akan membentuk habit. Berhubung aku udah punya dapur sendiri ya mau tidak mau aku harus eksplor sendiri kan ya. Nah justru disitu lah ilmu secukupnya ibu bekerja. Semua serba secukupnya dan eh tahu-tahu aku udah bisa aja masak, hahaha. Dengan banyak trial eror sendiri karena emang itu tadi selera orang berbeda. Termasuk dalam keluarga kecilku pun saat ini punya selera masakan yang menurut aku jauh dari masakan ibu, apalagi untuk suami yang suka pedas. Tapi basicnya aku selalu pakai kebiasaan waktu memasak bareng ibu dulu. Baru setelah itu rasa menyesuaikan.


Dibalik struggle ku belajar memasak, ada hal yang membuatku merasa “waw ajaib banget”. Aku selalu kangen masakan ibu. Aku baru merasakan sekarang bahwa kegiatan memasak yang awalnya aku pikir menyebalkan itu ternyata menjadi kegiatan yang paling bikin kangen. Dari situlah aku punya cita-cita pengen kayak ibu, yang masakannya dikangenin anaknya terus. Bahkan kalau ibu main ke rumah, bukan aku yang masak. Ibu yang aku minta masak, hahaha. Ya karena itu tadi, aku mau makan masakan ibu. Serasa kembali jadi anak-anak gitu.


Jadi apa itu resep? Bagiku resep itu hanya petunjuk awal ya. Sedang eksekusi akhirnya tetap diri sendiri yang menentukan. Mau manis kek, atau asin. Tinggal menambah dan mengurangi sesuai selera. Kalau ditanya resepnya apa? Ya nggak ada yang khusus, kayak biasanya aja. Justru yang membuat sebuah masakan istimewa adalah siapa yang memasak dan makan barengnya. Makan bareng itu kedua yang paling aku rindukan. Rasanya kayak template gitu, tapi jujur malah bikin selalu ingat rumah.


Sedang di keluarga aku sekarang lebih cenderung masak pedas sih. Karena suami suka banget makanan pedas. Apapun masakannya harus ada sambal. Jadi sambal harus enak. Sambal selera suamiku cenderung asin dan super pedas. Bahkan aku sendiri yang masak kadang nggak tahan. Dan anehnya sampai detik ini rasa sambal bikinanku selalu berubah kata suami, hahaha. Kadang beberapa kali suami harus bumbuin sendiri sambalnya. Kayaknya aku masih terbawa cara masak bareng ibu. Ajaib ya, bahkan cara masak pun harus di kawinkan loh dalam pernikahan. Ya aku belum punya resep khusus untuk keluarga aku. Anak-anak pun masih yang belum bisa menilai. Tapi kalau membuat sayur bayam aku selalu pakai sere. Dan anak-anak suka banget sayur bayam.


Salam happy!

Rabu, 01 Maret 2023

 



SKINCARE TERNIAT SELAMA 30 TAHUN: Ramah Kantong dan Mudah Didapat


Siapa sih yang nggak tahu istilah “sun burn”? Aku sendiri mengetahui istilah “sun burn” dari tayangan anak Upin ipin. Dimana disitu si kakak Rose nggak mau keluar rumah karena takut kulitnya terbakar alias “sun burn”. Aku tertawa waktu adegan si kakak Rose berkata begitu. Apa pula takut sun burn, kemayu banget. Memangnya sekali keluar rumah bakal langsung terbakar? Hahaha. 


Eh ternyata beberapa hari kemudian adik iparku melakukan hal serupa dengan si kakak Rose. Aku menertawakan sikap konyol adikku itu. Lalu aku dan adik iparku jadi berlanjut membicarakan tentang skincare. Rupanya remaja 18 tahun ini sedang gandrung belajar skincare. Aku dengan entengnya bilang ke dia, kalau aku dulu seusia dia berjerawat parah dan memilih masa bodoh. Hahaha. Remaja ini memberontak, katanya “gimana nasib wajahku dengan segala jerawat ini kalau nggak dirawat mbak?”


Ngobrolin perihal skincare, pengalaman pribadiku perihal dunia skincare sangat minim. Aku adalah tim malas konsisten. Saat remaja, aku pernah ada di fase “coba-coba” produk karena penasaran dan terbujuk rayuan iklan di televisi. Itu terjadi kira-kira saat aku sekolah menengah pertama. Seharusnya terlalu dini, tapi ibuku nggak protes ataupun menegur. Akhirnya yang terjadi kulitku malah breakout parah. Sangat parah sampai tingkat “jerawat ungu”. Apa itu? Jerawat ungu adalah istilah yang aku pakai pribadi karena peradangan pada jerawatku yang sampai membuat kulit disekitar jerawat berubah warna menjadi ungu dan super menyakitkan. Bahkan rasa frustrasi kala itu masih terasa jika mengingatnya. Aku sangat menyesal lantaran sebelumnya kulitku baik-baik saja. Walaupun tidak glowing setidaknya bersih dari jerawat. Huhuhu. Dan aku stop memakai apapun setelah itu, dan memilih pakai masker wajah alami dari buah atau sayur. Butuh bertahun-tahun ya untuk mengembalikan skincare barier aku pulih.


Berbekal pengalaman pertama yang pahit, aku mendapat satu pelajaran penting bahwa jangan pernah sekalipun terbujuk rayuan iklan televisi. Hahaha. Aku paling tidak harus tahu tipe kulitku seperti apa. Baru deh bisa menentukan mau pakai produk skincare apa. Kenali dirimu, kenali kulitmu. Daaan …aku baru mendapatkan ilham pemikiran seperti itu setelah 30 tahun lamanya. Apa? Kok bisa?


Sungguh terlambat ya? Hahaha. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Bagaimana perjalananku menemukan skincare yang cocok untuk kulitku? Jawabannya adalah dengan banyak membaca. Segala informasi seputar “skincare yang cocok untuk pemula” dan “skincare yang cocok menjelang usia 30”, membawaku pada satu nama brand skincare. Awalnya aku kurang begitu percaya dengan brand ini, karena aku jarang mendengar produknya. Ternyata eh ternyata, aku yang cupu bukan brandnya yang nggak terkenal. Hahahaha.


Daaan …produk skincare terniat pertama yang aku pakai setelah sekian tahun lamanya tanpa skincare adalah Azarine. Terutama yang series brightening Japanese Sakura ya. Kenapa pilih seri ini? Sederhana sih, karena aku tidak mau membebani kulitku. Aku berusaha memilih kandungan yang paling ringan, menurutku. Berkat mendalami produk Azarine pula, aku jadi mengulik lebih dalam bagaimana sih sebenarnya tipe kulitku ini? Kenyataannya, dulu kulitku sangat berminyak di hampir semua bagian. Hasil observasiku, sekarang kulitku malah sebagian kering dan cenderung kusam. Waw, inilah jawaban kenapa kata suamiku aku tidak ada beda mau udah mandi atau belum. Bahkan ibu mertuaku pun berkata begitu.


Foto koleksi pribadi


Yang membahagiakan lagi, produk skincare dari Azarine sungguh sangat ramah kantong sekali. MasyaAllah aku sampai terharu ya. Mengingat harga skincare saat ini banyak yang overbudget buat ibu-ibu pelit sepertiku. Hahaha. Dengan harga kurang dari 50 ribu rupiah udah bisa memiliki day cream dan night cream. Bahkan serumnya pun kurang dari 100 ribu rupiah. Auto bahagia ya. Hahaha. Udah gitu awet dong, bisa sampai sebulan lebih. Kira-kira begini rangkaian skincare ramah kantong yang aku gunakan, pertama facial wash punya brand Wardah. Kedua, aku pakai serum brightening yang warna pink punya brand Azarine. Ketiga, aku pakai day cream atau sunscreen punya Azarine juga. Kalau malam tinggal ganti dengan night cream ya. Sudah. Hahaha.


Hasilnya, kulitku berangsur cerah setelah konsisten pakai selama satu bulan. Hore! Bye kusam hahaha. Alhamdulillah itu bukan kehaluanku saja ya. Suami kasih komentar positif, “eh kulitmu agak mendingin yank, nggak buluk kayak biasanya.” Memang agak perih ya mendengarnya, hahaha. Tapi nggak apa, aku sangat senang sih. Usaha pertama berjalan dengan baik. Dan lagi tanpa menguras kantong terlalu dalam dong, huhu. Cukup dengan kurang dari 200 ribu rupiah! Sudah mendapat rangkaian skincare basic yang mantul.


Selama 30 tahun ya, seorang aku akhirnya pakai skincare. Hahahaha. Sebuah kemajuan pesat dalam hidupku sih. Beruntung sekali aku ketemu dengan Azarine. Ramah kantong dan mudah didapat. Bahkan sekarang di Indomaret pun ada loh walaupun nggak begitu lengkap ya. Udah murah, gampang, ngefek pula, alhamdulillah banget kan ya. Hahahaha. Sejauh ini, aku belum pernah breakout sama sekali. Agak khawatir sih ya, tapi terbayang keriput di wajah kok ngeri. Ya sudahlah aku memilih mencoba memahami kulitku dan berani pakai skincare lagi. Terbayang nggak tuh selama ini aku nggak pernah pakai apapun dengan kualitas udara dan paparan sinar matahari Indonesia yang semakin nggak sehat. Masih selamat ya kulitku cuma kusam. Ya walaupun kalau diperiksa lebih lanjut mungkin akan menemukan penuaan sel kulit atau apa gitu ya, hahaha. Tapi, aku sangat puas dengan pencapaianku soal per skincare-an saat ini. Semoga aja selalu cocok dengan Azarine ya.


Perjalanan skincare ku masih akan berlanjut dengan babak baru, hahaha. Yaitu skincare anti aging. Maklum udah masuk usia 30 tahun harus lebih aware ya. Sekali lagi, pakai skincare bukan untuk terlihat cantik atau putih ya. Yang paling penting dari semua itu adalah kulit sehat. Dan kantong sehat tentunya, hahahaha.


Salam happy!